RONGGENG DUKUH PARUK

 obat kuat

Srintil adalah gadis bau kencur yang tinggal di Desa Paruk yang memiliki seni tari ronggeng yang masyhur di Jawa Tengah. Penari ronggeng adalah suatu kehormatan, sebelum munculnya pelanggaran susila yang dimulai oleh penghayatan yang berlebihan dari lelaki akan penari ronggeng. Sejak kecil Srintil ternyata mampu nembang dan menari dengan gemulai, erotis dan sensual. Penduduk desa bahkan percaya Srintil telah dirasuki roh indang ronggeng, wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Srintil tak ayal didapuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk.  

Ronggeng adalah seorang penari dan penembang tradisional yang tidak hanya menarik bayaran tinggi untuk pentasnya, tapi juga untuk jasa seksualnya. Demikian secungkil novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang kemudian diadaptasi menjadi film Sang Penari. Ronggeng yang berabad lalu mendapat tempat terhormat sebagai seni Nusantara, kemudian terkikis “kehormatannya” dan menjadi bahan ledekan dan korban politik pada masa modern.

Kata ronggeng berasal dari kata Sanskrit, renggana, yang berarti dewi perempuan. Dalam The History of Java, ronggeng adalah gadis-gadis penari yang paling umum yang tidak jarang juga menjual jasa seksual dalam layanan mereka. 

Di pihak lain kedekatan petani dan ronggeng tidak bisa dilepaskan dari keyakinan bahwa tarian ronggeng adalah ritual pemujaan akan kesuburan tanah dan keberhasilan panen. Ada beberapa legenda dan mitos menceritakan bagaimana ritual tarian tayuban dilakukan oleh sekelompok laki-laki untuk menghormati Dewi Sri atau dewi padi, juga pada relief-relief candi di Jawa ada banyak ukiran laki-laki menari dan menembang mengelilingi perempuan yang dianggap merepresentasikan Dewi Sri.  

Kemudian perempuan penari inipun menjadi penari ronggeng, dengan gerakan tarian dan aktivitas seksual yang dipercaya merepresentasikan sekaligus mempengaruhi kekuatan dan kesuburan alam. Tradisi menari, menembang, dan seksualitas ronggeng berurat akar dalam masyarakat tradisional agraris, di mana simbol-simbol dan praktik seksualitas, dalam kehidupan sehari-hari ataupun abstrak, dipandang sebagai jimat yang menjamin kesuburan dan keberhasilan panen.  Namun disini nilai wanita tidak pernah dipertanyakan, hubungan wanita dengan laki-laki, perempuan dianggap tidak memiliki otonomi dan kontrol sosial yang setara dengan laki-laki. Termasuk peran dalam bidang ekonomi, agama dan ritual, maupun pemerintahan. 

Perempuan hanya dipandang perannya sebagai obyek untuk bercumbu dan bermain cinta. Fungsi reproduktif perempuan dinilai tinggi memiliki kekuatan magis dan sebagai ritus lambang kesuburan masyarakat agraris. Norma-norma tradisional terhadap perempuan dan nilai-nilai hakiki seksualitasnya terutama pada jaman kolonialisme, menempatkan perempuan dalam praktik dan simbol seksualitas, karena penduduk lokal dianggap primitif dan tidak beradab. Seperti ronggeng yang selalu disukai dan disambut riuh tepukan dan tawa penonton pribumi lokal. Namun dianggap kasar dan aneh serta menjijikkan untuk orang-orang Eropa. Meskipun pada praktiknya, sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas penguasa kolonial sangat menyukai kesempatan menikmati keleluasaan pengalaman seksual eksotis yang jauh dari pengawasan tanah air mereka disebrang sana. Ronggeng memang merepresentasikan dualisme, ritual sakral  dan perempuan pelacur. 

Di satu sisi melambangkan sisi magis dan kesucian, tapi di sisi lain juga terbersit naluri berahi dan nafsu. Dalam adat Dukuh Paruk, Srintil pun harus melalui tahapan sebelum dia berhak menyebut dirinya sebagai ronggeng.  Mulai dari upacara permandian di depan cungkup makan Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk, berpuasa dan mengunjungi beberapa pemakaman leluhur, sampai menjalani ritual bukak klambu, menyerahkan keperawanannya pada lelaki yang berani membayar paling mahal. Karena penari ronggeng adalah milik semua orang terutama yang mampu membayar mahal dalam sayembara bukak klambu, yang mampu membayar dengan harga tertinggi berhak mendapatkan keperawanan penari ronggeng. 

Namun sayembara itu berhasil dilakukan berkali-kali, walapun penari ronggeng sudah tidak perawan lagi. Masing-masing laki-laki berhasil dibuat mengira dialah yang berhasil mendapatkan kekuasaan menggendaki untuk pertama kalinya. Semuanya itu berkat penghasilan yang otomatis banyak dan menjadikan penari ronggeng kaya raya. Pekerjaan sebagai penari ronggeng yang menghasilkan ini tidak bisa ditolak, karena hukum di Dukuh Paruk mengatakan karir seorang ronggeng baru terhenti bila ia hamil sejak kehamilan pertamanya, atau bila ia mati. 

(Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia)

Rp 250,000
Perempuan penari ronggeng bisa jadi disamakan dengan perempuan penghibur, walau penari ronggeng menyangkal telah menjajakan jasa seksual, tidak menimbulkan kecemburuan para istri yang suaminya memuja ronggeng. Saat penari ronggeng nembang dan menari, makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya.  Karena jadi dianggap oleh masyarakat bahwa suaminya seorang lelaki jantan, uangnya banyak dan birahinya hebat. Timbul kebanggaan akan status sosial.

Vitaplas sangat efektif untuk meningkatkan vitalitas pria. Vitaplas bebas unsur kimia, sehingga tidak ada efek samping bila dikonsumsi. Karena kandungan yang terdapat di dalamnya adalah tanaman obat yang memiliki banyak khasiat. Diproduksi dengan standar GMP (Good Manufacturing Practices), standar produksi yang terjaga serta pengawasan mutu produk secara kontinyu, menjamin kualitas, khasiat serta keamanan produk untuk anda konsumsi. Dengan kandungan zat spilanthol, eurikomanon, hidroquinone, dan squalena. 

Vitaplas memiliki zat aktif sebagai efek aprosidiak untuk meningkatkan vitalitas, berfungsi meningkatkan libido, efek androgenik dan merangsang ereksi, memacu semangat dan menaikkan tekanan darah, serta dapat merangsang semangat dan melancarkan transfer oksigen dalam darah. Vitaplas sangat efektif dan aman untuk meningkatkan vitalitas pria. Karena terbuat dari tanaman obat yang memiliki banyak khasiat, sehingga bebas unsur kimia dan tidak ada side efect. Vitaplas wajib di konsumsi pria penting di urus wanita.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar